BRMP Tanaman Pangan Paparkan Strategi Pertanian Regeneratif pada Seminar Nasional Agroteknologi 2026
Jawa Timur, 5 Agustus 2026 — Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Pangan, Dr. Haris Syahbuddin, DEA., mewakili Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) dalam menyampaikan pidato kunci pada Seminar Nasional Agroteknologi dan Lokakarya PAGI 2026 di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. Melalui paparan bertajuk “Penentuan Strategi Kebijakan dalam Mendukung Ketahanan Pangan”, ia menyampaikan capaian dan arah kebijakan Kementerian Pertanian dalam mendukung pertanian regeneratif di tengah tantangan perubahan iklim global.
Haris menjelaskan bahwa pembangunan pertanian nasional menunjukkan capaian positif. Produksi beras tahun 2025 mencapai 34,69 juta ton atau meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan cadangan beras pemerintah mencapai 5,30 juta ton pada Juni 2026. Capaian tersebut turut mendukung keberhasilan Indonesia mewujudkan swasembada pangan dalam satu tahun. Keberlanjutannya diperkuat melalui program prioritas Kementerian Pertanian, antara lain pengelolaan air dan irigasi, optimasi lahan, peningkatan produksi komoditas strategis, penyediaan benih dan sarana produksi, regenerasi petani, serta hilirisasi pertanian.
Di tengah capaian tersebut, perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, dan degradasi lahan menjadi tantangan yang perlu diantisipasi. Haris menekankan pentingnya pertanian regeneratif yang memadukan peningkatan produktivitas dengan upaya menjaga kesehatan tanah, meningkatkan efisiensi penggunaan air dan sarana produksi, serta mempertahankan keberlanjutan ekosistem. BRMP mendukung transformasi tersebut melalui modernisasi pertanian berkelanjutan, pertanian presisi, perakitan teknologi dan kelembagaan berorientasi lingkungan, serta penerapan standar budidaya berkelanjutan.
Salah satu implementasinya adalah Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS), yang mengintegrasikan tanam benih langsung, peningkatan populasi tanaman, mekanisasi, pengairan intermiten, pengendalian gulma pratumbuh, dan penggunaan sarana produksi secara terukur. Penerapan PM-AAS secara bertahap di berbagai wilayah menunjukkan potensinya dalam mendukung peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani melalui pemanfaatan teknologi serta pengelolaan budidaya yang disesuaikan dengan kondisi setempat.
Transformasi pertanian turut diperkuat melalui pemanfaatan platform digital, mekanisasi, teknologi pertanian presisi, serta kegiatan perakitan dan perekayasaan tanaman pangan. Menutup paparannya, Haris menegaskan bahwa kedaulatan pangan merupakan proyek besar bangsa yang membutuhkan kolaborasi pemerintah, akademisi, industri, komunitas, petani, dan generasi muda untuk membangun pertanian Indonesia yang produktif, tangguh, dan berkelanjutan.